Menteri Koordinator Politik, Hukum, serta Keamanan Mahfud Md dituturkan meragukan dugaan pelecehan intim selaku latar balik perkara pembunuhan ajudan mantan Kelapa Divisi Profesi serta Pengamanan Polri Irjen Ferdy Sambo, Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Mahfud meragukan cerita itu sebab memperhitungkan terdapatnya skenario merekayasa permasalahan ini semenjak dini.
Bagi Mahfud yang pula ialah Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional( Kompolnas), rekayasa dini pembunuhan ini bermula dari terdapatnya cerita pelecehan intim saat sebelum peristiwa tembak menembak di rumah dinas Sambo. Bagi ia, skenario itu dibentuk Sambo buat menunjang jebakan psikologi kepada orang lain supaya menunjang ceritanya.
" Soal terdapatnya tembak menembak itu bukan main prakondisinya. Saat sebelum skenario itu mencuat kalau telah terdapat jebakan psikologi kepada orang tertentu buat menunjang kalau itu tembak menembak," kata Mahfud dalam salah satu podcast di media sosial YouTube. Tempo sudah memohon izin Mahfud buat mengutip cerita itu.
Mahfud Md menggambarkan, saat sebelum polisi mengumumkan cerita tembak menembak serta pelecehan intim itu, Ferdy memanggil komisioner Komisi Kepolisian Nasional Poengky Indarti ke kantornya. Di depan Poengky, Sambo menangis serta menceritakan dirinya merasa teraniaya mengenali istrinya dilecehkan Yosua.
" Jika aku( Sambo) sendiri di sana aku tembak habisi ia," kata Mahfud menggambarkan ulang penjelasan Sambo yang di informasikan kepada Poengky.
Sehabis mendengar cerita itu, kata ia, Poengky kembali serta tidak paham sesungguhnya apa yang terjalin. Anggota kompolnas yang lain pula dipanggil Sambo, serta sisa kepala Satuan Tugas Spesial Merah Putih yang sudah dibubarkan itu menggambarkan perihal yang sama.
" Berarti ini terdapat pengkondisian psikologis supaya terdapat orang yang nanti membela melaporkan kalau itu terzalimi. Betulkan Kompolnas serta Komnas HAM semula menebak itu( tembak menembak serta terjalin pelecehan intim)."
Kata Mahfud, Sambo terus mengkondisikan sudah terjalin penzaliman kepada keluarganya yang dicoba Yosua. Karena Sambo tidak menyudahi bergerilya hingga ke Kompolnas buat menggambarkan skenario itu. Sambo pula menghubungi sebagian anggota DPR menggambarkan perihal yang sama kalau terjalin pelecehan di rumahnya. Mahfud pernah mengkonfirmasi langsung anggota DPR yang menemui Sambo, tetapi tidak direspon. " Aku telpon tidak dinaikan. Aku ingin tanya itu," ucapnya.
Memandang kasak kusuk Sambo itu, Mahfud memandang kalau terdakwa tersebut sudah menghasilkan prakondisi pelecehan saat sebelum kepolisian mengumumkan kematian Yosua kepada publik. Mahfud yang meragukan cerita itu juga memanggil Pimpinan Setiap hari Kompolnas Benny Mamoto yang terbawa- bawa terhadap cerita Sambo itu.
" Sehabis aku mendengar itu aku memohon mengubah perspektif," ucapnya." Aku panggil Benny Mamoto, kenapa kamu melaporkan itu peristiwa benar sementara itu terdapat perspektif lain yang bisa jadi lebih masuk ide."
Dikala berjumpa dengan Mahfud, Benny mengaku menerima data soal adu tembak serta pelecehan itu dari Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Mahfud juga mempertanyakan kenapa Benny menerima begitu saja cerita yang tidak masuk ide itu.
" Tidak terdapat kaitan antara cerita satu dengan yang lain, kenyataannya apa itu tidak bisa jadi begitu. Telah saat ini ubah perspektif kalau ini bukan pelecehan," memohon Mahfud kepada Benny.
Poengky membetulkan cerita Mahfud. Dia mengaku diundang Sambo ke kantornya pada Senin, 11 Juli kemudian, jam 10. 00. Poengky berkata tidak mengenali kalau terdapat permasalahan pembunuhan di rumah dinas Sambo.
" FS( Sambo) yang memohon waktu aku buat berdiskusi," kata ia.
Awal mulanya, Poengky berharap hendak menemukan data- data pelanggaran anggota Polri yang diproses etik serta disiplin semester satu tahun ini. Tetapi, di luar dugannya, nyatanya yang diucap Sambo selaku dialog merupakan keinginannya menceritakan soal kematian Yosua.
" Cerita sembari menangis kalau istrinya dilecehkan sopirnya, namun dibela ajudannya serta terjalin tembak menembak, menyebabkan sopir istrinya wafat dunia," ucapnya.
Poengky awal mulanya pernah terharu dengan cerita Sambo. Terlebih di hadapannya merupakan seseorang jenderal bintang 2 yang menceritakan sembari menangis. Di satu sisi, Poengky mengaku sangat prihatin terdapat korban wafat, serta terdapat pula seseorang istri yang jadi korban pelecehan.
" Tetapi di sisi lain aku ragu dengan ceritanya. Saya
pernah berpikir apakah FS pemain sifat? Sepanjang ini aku tidak sempat dekat dengan FS. Aneh saja kok aku seketika dicurhati sembari nangis- nangis."
Sehabis memperoleh cerita itu, Poengky langsung menggambarkan pertemuan itu kepada komisioner Kompolnas yang lain, ialah Mahfud serta Benny Mamoto." Siang harinya permasalahan ini baru meledak serta sorenya Mabes Polri menghasilkan luncurkan bersumber pada hasil olah TKP. Kami merujuk pada luncurkan Mabes Polri," ucapnya.
Keesokan harinya, Kompolnas menghadiri Polres Jakarta Selatan buat mengecek kebenarannya. Kompolnas pula menggali data langsung, tercantum mengecek tempat peristiwa masalah dikala dini permasalahan ini dikenal. Sehabis dibangun Regu Spesial serta dicoba penyidikan secara scientific, barulah dikenal kalau terdapat obstruction of justice ataupun upaya membatasi penyelidikan dikala olah TKP.
Sebab memandang gejala obstruction of justice dikala olah TKP dini yang ingin mengaburkan kenyataan peristiwa sesungguhnya itu, Kompolnas setelah itu merekomendasikan kepada Kapolri buat bedol desa orang- orang yang diprediksi melaksanakan rekayasa peristiwa itu." Kami pula memohon dicoba pengecekan etik serta proses pidana bila diprediksi terdapat yang melaksanakan tindak pidana."
Tidak hanya itu, Kompolnas pula membuat pesan saran pada Kapolri supaya pemakaman almarhum Yosua sehabis otopsi kedua dicoba secara kedinasan." Sebab diprediksi terdapat obstruction of justice dalam pengusutan permasalahannya serta Yosua belum teruji bersalah," ucapnya.
Semacam diketahu, polisi awal mulanya menyebut kejadian kematian Yosua dilatari peristiwa pelecehan terhadap Gadis Candrawathi, istri Ferdy Sambo. Yosua diucap ikut serta tembak menembak dengan Bharada E alias Richard Eliezer Pudihang Lumiu.
Belum lama skenario itu berhamburan sehabis Richard buka suara. Ia mengaku turun dari lantai 2 ke lantai satu rumah dinas Ferdy sehabis mendengar kegaduhan. Sesampainya di lantai satu, Richard mengaku memandang Ferdy memegang pistol sedangkan Yosua telah terkapar. Richard pula mengaku pernah diperintah Ferdy buat menembak Yosua.
Polisi kemarin juga menghentikan permasalahan dugaan pelecehan intim yang diadukan Gadis Candrawathi. Mereka melaporkan tidak terdapat fakta yang menunjang laporan istri Ferdy Sambo itu.
